Bismillahirahmanirahim..
Salah satu rahasia hidup yang terpenting adalah pertemuan. Karena sebuah pertemuan dapat merubah cara pandang kita kepada hal ihwal bahkan dapat merubah arah hidup hanya dalam sedetik. Seperti kilat yang menyambar dalam gelapnya perjalanan. Dan saya adalah salah satu orang yang merasa bersyukur dikaruniai pertemuan pertemuan berharga dalam perjalanan hidup saya meskipun mungkin sedikit sekali dari pertemuan pertemuan tersebut yang bisa saya beri arti secara nyata atau terjemahkan ke dalam hidup saya
Pertemuan saya dengan Bang Noorca Mahendra Massardi (semoga Allah Swt mempertinggi imannya) seorang penyair terlupakan dari generasi 70 - 80 an, prosais, jurnalis, seorang pekerja industri infotainmen (dan belakangan saya mulai mengerti bahwa dia adalah juga seorang spritualis) adalah salah satu dari pertemuan yang berharga tersebut. Bukan karena dia ternama, senior atau sebagainya, tapi karena hal sepele yang mungkin tidak pernah dilihat orang dari dirinya.
Kalau diurut, setidaknya ada tiga hal sepele yang telah membuat pertemuan saya dengan Bang Noorca menjadi begitu berarti. Pertama, kesediaannya untuk mendengar orang lain dengan seksama. Tak peduli apakah yang berbicara kepadanya itu seorang gelandangan ataupun siapapun.
Itulah sikap diri yang paling mengesankan yang terlihat dan terasa tulus dari beliau selama kami mengadakan perjalanan budaya di NTB beberapa waktu lalu. Saya yakin ada banyak orang punya sikap diri yang sama dengan Bang Noorca. Tapi bagi saya sikap itu berharga karena membuyarkan prasangka saya tentang makhluk industri megapolit yang menjadi latar belakang dunia Bang Noorca.
Tadinya saya pikir Bang Noorca akan sama saja perangainya dengan para pekerja keras, orang - orang sibuk, intelektual Jakarta yang pernah saya kenal- yang di sini saya sebut sebagai manusia industri infotainment itu. Saya pikir dia akan berargumentasi, bersikap serta menilai segala sesuatu dengan sedikit arogan, menunjukkan diri paling intelek, paling bisa, merasa paling tahu dan sejenisnya. Rupanya saya salah. Selama beberapa hari mengenal, malah saya yang kelihatan banyak tahu heeehe...saya yang banyak cerita ini dan itu.
Beliau hanya mangut - mangut saja dan kalau bercerita selalu bagian - bagian gak enak dari hidupnya. Tak ada bagian hebatnya, kecuali dia merasa bangga pernah bertemu langsung dengan Imam Khomeini dan berziarah ke makan Syaikh Abdul Kadir Jaelani di Baghdad. Sebagai misal, beliau cerita bagaimana suatu hari Bang Radhar Panca Dahana menasehatinya agar banyak berjalan agar tahu kalau dunia sastra sudah berubah.
Bayangkan (Bang Radar yang lebih kemaren sore secara umur dapat menasehati orang tua hehe). Namun beliau juga cerita dengan jujur betapa nasehat Radhar itu benar - dan ketika novelnya d.I.a Cinta dan Presiden terbit, berjalanlah beliau untuk mengenal dunia yang kata Bang Radhar suda berubah itu...
Bang Noorca juga tak kelihatan enggan untuk mengaku kalau dirinya sudah tak dikenal sama sekali sebagai sastrawan oleh generasi sekarang. Kalau ada yang tahu, paling sebagai mantan Pimred Jakarta - Jakarta....
Hal sepele kedua, kebiasaannya untuk tidak membangunkan teman yang sedang tidur. Nah, ini yang paling menyenangkan bagi saya. Selama menginap di beberapa penginapan di NTB sepanjang minggu terakhir bulan Juli 2008, saya pasti bangun belakangan. Saya baru bangun kadang setelah dibuatkan sarapan dan kopi. wah rasanya seperti saya lah yang bos walaupun Bang Noorca yang bayar penginapan...
Hal sepele ketiga adalah watak airnya yang menonjol. ini agak susah saya terangkan karena berhubungan dengan feng shui. Watak air yang menyegarkan dan spontan memang tampak dari bang noorca dalam hal bertindak serta mengambil keputusan. Dia akan dengan senang hati akan menuruti suatu ide yang saya usulkan. Dengan cara itu dia dapat bersahabat dengan semua orang. Sebagai misal, suatu ketika saya usul agar bang noorca berpakaian santri saat bicara di lombok timur karena dipanel dengan Tuan Guru. Alhasil beliau benar benar tampil nyantri di forum tersebut. Pake songkok timur tengah dan makalahnya sangat bernuansa islamis liris (istilah baru )sehingga hampir beliau mengalahkan penampilan Tuan Guru yang ahli mimbar.
Ketiga hal sepele ini bagi saya sudah cukup untuk menggambarkan tingkat spritualitas Bang Noorca. Latar belakang sebagai seorang pekerja di industri pers = infotainment itu ternyata tidak perlu membuat seorang kehilangan kesunyian diri. Kesimpulan tersebut makin meyakinkan tatkala Bang Noorca memperlihatkan puisi - puisi Ubudnya. Puisi - puisi yang spontan dan sunyi, memperlihatkan pandangan matang dari seorang sastrawan yang nyaris tak kita tahu selama ini. Tak hanya saya, warih wisatsana dan wayan sunarta yang turut membaca puisinya juga berpendapat sama.
Maka saya merasa senang bertemu Bang Noorca dan senang pula bisa sedikit berpartisipasi dalam peluncuran buku beliau. Terhadap diri saya sendiri saya berpesan agar hal - hal baik yang saya lihat dari Bang Noorca dapat menginspirasi saya dalam bertindak di alam nyata....